Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

"Tutup Kendang": Fenomena Masjid Penuh di Awal dan Akhir Ramadhan, Lalu Sepi di Tengah

Oleh: Djoko Iriandono *)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan penuh berkah yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, semangat menyambut dan menjalani ibadah di bulan suci ini begitu terasa, terutama dengan tradisi sholat Tarawih berjamaah di masjid-masjid. Namun, ada satu fenomena unik yang sering kita saksikan dan bahkan menjadi bahan candaan ringan di masyarakat, yakni fenomena “Tutup Kendang”.

Istilah "Tutup Kendang" dalam konteks ini bukan merujuk pada alat musik tradisional yang mengatur ritme dalam gamelan . Secara sederhana, fenomena ini menggambarkan kondisi masjid yang hanya ramai dipadati jamaah di awal Ramadhan (biasanya satu minggu pertama) dan di akhir Ramadhan (sekitar sepuluh malam terakhir), namun relatif sepi di pertengahan bulan. Ibarat sebuah pertunjukan, "kendang" baru ditabuh dengan meriah saat pembukaan dan penutupan, sementara di bagian tengah, tabuhannya meredup, bahkan nyaris tak terdengar.

Dari Puasa Akhir Tahun ke Ibadah "Musiman"

Menariknya, istilah "Tutup Kendang" sendiri memiliki akar sejarah dalam tradisi Islam di Jawa. Awalnya, istilah ini Merujuk pada praktik puasa sunnah di akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram (tahun baru Hijriah). Para ulama salaf di Jawa menamakannya “puasa tutup kendang” sebagai bentuk muhasabah, menutup tahun lama dan membuka tahun baru dengan ibadah .

Namun, dalam perkembangannya, istilah ini juga dilekatkan pada pola ibadah di bulan Ramadhan. Fenomena "Tarawih Tutup Kendang" menjadi cerminan bagaimana sebagian umat memaknai bulan suci ini. Cendekiawan Muslim, Ustaz Syuhada Bahri, bahkan menyebut fenomena ini sebagai warisan ketidakpahaman yang menjadikan puasa Ramadhan sebagai ibadah musiman . Hal senada juga diungkapkan oleh Didin Hafidhuddin yang mengingatkan bahwa ibadah Ramadhan bukan hanya di awal, justru mendekati akhir, terutama sepuluh malam terakhir, sangat diutamakan .

Semangat Meluap di Awal, Mengendur di Tengah

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Di awal Ramadhan, euforia menyambut bulan penuh ampunan begitu menggelora. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin meraih keutamaan malam pertama. Semangat ini adalah hal yang baik, karena Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang melaksanakan sholat (Tarawih) pada malam hari di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas (hanya karena Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, seiring berjalannya waktu, rutinitas pekerjaan, aktivitas harian, dan godaan rasa malas mulai menyusupi. Semangat yang awalnya membara perlahan mengendur. Akibatnya, di pertengahan Ramadhan, jamaah Tarawih di masjid menyusut drastis. Barulah ketika memasuki sepuluh malam terakhir, dengan kabar datangnya Lailatul Qadar dan tradisi "ngalap berkah" di malam ganjil, masjid kembali sesak oleh jamaah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2-3)

Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya konsistensi (istiqamah). Semangat beribadah di awal bulan adalah modal berharga, namun akan lebih indah jika semangat tersebut dapat dijaga hingga akhir Ramadhan. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Mukasyafatul Qulub menjelaskan bahwa elemen penting dalam bertakwa adalah khauf (rasa khawatir) dan roja' (pengharapan). Di bulan Sya'ban, yang merupakan pendahulu Ramadhan, seorang mukmin sudah selayaknya mempersiapkan diri, memupuk amal saleh agar dapat "dipanen" dengan maksimal di bulan Ramadhan . Jika tidak, bagaimana mungkin seseorang dapat meraih Lailatul Qadar jika di pertengahan Ramadhan ia lalai?

Lebih Baik daripada Tidak Sama Sekali?

Meskipun fenomena "Tutup Kendang" seringkali mendapat kritik, ada pula sudut pandang yang lebih optimis. Sebagaimana dianalogikan dalam konteks puasa akhir tahun, "ibadah tutup kendang" lebih baik daripada membiarkan waktu berlalu tanpa makna  .

Dalam konteks Ramadhan, meskipun seseorang hanya bersemangat di awal dan akhir, setidaknya ia masih mendapatkan momentum ibadah di dua waktu yang sangat mulia tersebut. Apalagi sepuluh malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa, di mana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman:

 "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr : 3)

Pendapat ini tentu saja bukan untuk membenarkan sikap “musiman”, melainkan sebagai dorongan agar tidak putus asa dari rahmat Allah. Akan lebih baik jika seorang muslim terus berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya. Seperti pesan dari sebuah hadits, bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (kontinu) meskipun sedikit .

Menuju Ramadhan yang Lebih Bermakna

Fenomena "Tutup Kendang" seharusnya menjadi bahan renungan bagi kita bersama. Sudah saatnya kita mengubah paradigma dari "mengejar" pahala di awal dan akhir menjadi "menikmati" setiap detik keberkahan Ramadhan dari awal hingga akhir. Pengurus masjid dan mushala/langgar pun diharapkan memiliki strategi untuk mempertahankan jumlah jamaah dengan menghadirkan kajian atau kegiatan yang variatif dan menarik .

Ramadhan adalah madrasah (sekolah) bagi jiwa. Ia mengajarkan kita untuk tidak hanya menjadi hamba yang baik di saat-saat tertentu, tetapi untuk selalu konsisten dalam ketaatan sepanjang hayat. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya, bukan hanya dengan memadati masjid di awal dan akhir, tetapi juga dengan meramaikannya di setiap malam yang penuh berkah. Karena kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan kembali tentu saja tidak ada di tangan kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.

*)  Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi