Oleh: Djoko Iriandono*)
Anda ingin membaca artikel lainnya KLIK DI SINI
Sejak maraknya penggunaan media sosial di negara kita, penghujung tahun selalu menjadi momen yang ramai diwarnai berbagai unggahan di platform seperti WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube, dan lainnya. Unggahan tersebut berupa tulisan maupun video pendek yang berisi ajakan atau seruan untuk merenungi perjalanan hidup, baik yang telah dilalui maupun yang akan datang. Menariknya, konten tersebut ada yang merupakan edisi lama yang terus dibagikan ulang, tetapi ada juga yang baru dibuat untuk momen ini.
Artikel ini juga hadir sebagai ajakan untuk merenung, khususnya untuk diri Penulis sendiri, dan tentunya juga bagi pembaca setia yang selalu mengikuti artikel di website: https://islamiccenterkaltim.org
Waktu adalah pengingat nyata betapa singkatnya kehidupan kita di dunia ini. Tanpa terasa, kita kembali berada di bulan Desember. Bulan ini menjadi waktu yang penuh refleksi, di mana kita merenungkan perjalanan setahun yang telah berlalu—apa saja yang telah kita capai, apa yang masih tertinggal, dan apa yang perlu diperjuangkan di masa depan. Di tengah hiruk-pikuk rutinitas, Desember mengajarkan kita untuk melambat sejenak, bersyukur atas apa yang kita miliki, dan mempersiapkan diri menyambut tahun baru dengan harapan dan tekad yang lebih kuat.
Berbicara soal waktu, ada satu waktu pada setiap bulan yang menarik untuk direnungi, yaitu tanggal 26. Tanggal ini sering kali menjadi saksi berbagai peristiwa besar yang penuh duka. Mulai dari tsunami dahsyat di Aceh pada 26 Desember 2004, hingga letusan Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010, serta banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada tanggal 26 di bulan dan tahun yang berbeda. Seolah-olah, tanggal ini menghadirkan pesan tersirat dari Allah SWT.
Apakah ini sekadar kebetulan? Ataukah sebuah pengingat dari Sang Pencipta? Dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 101, Allah SWT berfirman:
Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Perhatikanlah apa saja yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah berguna tanda-tanda (kebesaran Allah) dan peringatan-peringatan itu (untuk menghindarkan azab Allah) dari kaum yang tidak beriman. (QS. Yunus: 101).
Berdasarkan ayat tersebut Allah menyuruh umat manusia untuk mengkaji alam semesta dan menyingkap rahasia di dalamnya melalui ilmu pengetahuan untuk peradaban manusia. Hal itu tidak lain untuk mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah.
Sebagai kelanjutan ayat tersebut Allah berfirman :
Yang artinya : Mereka tidak menunggu kecuali seperti hari-hari (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah (Muhammad), “Maka, tunggulah (siksaan Allah)! Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersamamu.” (Qs. Yunus ayat 102).
Firman Allah ini seakan menjadi refleksi atas kuasa Allah yang nyata, membuktikan bahwa segala sesuatu di dunia ini berada dalam genggaman-Nya. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar sejarah, melainkan pelajaran yang mengingatkan kita untuk bertanya: bagaimana kita telah menggunakan waktu yang Allah berikan?
Merenungi Singkatnya Waktu Hidup di Dunia
Jika diukur dari sudut pandang akhirat, kehidupan di dunia ini hanyalah sekejap. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Hajj ayat 47 yang berbunyi, "Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu".
Berdasarkan ayat tersebut di atas , maka:
- 1.000 tahun di dunia sama dengan 24 jam di akhirat.
- 1 tahun di dunia sama dengan 0,024 jam di akhirat.
Jika umur manusia rata-rata 63 tahun, maka menurut waktu akhirat hanyalah 1,5 jam.
Ini menegaskan bahwa rata-rata umur manusia, sekitar 60-70 tahun, hanyalah sekilas pandang jika dilihat dari perspektif langit. Betapa singkat waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Dalam surah Al-Mu’minun ayat 112-114, Allah mengingatkan:
"Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari..."
Ayat ini mengajak kita memahami bahwa waktu di dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Maka, apa yang telah kita perbuat untuk mempersiapkan diri menghadapi keabadian itu?
Sholat dan Amanah Waktu
Salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan waktu adalah menjaga sholat. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sholat adalah amal pertama yang akan dihisab. Betapa besar kerugian kita jika meninggalkannya. Perhitungan siksaan 8.000 tahun untuk satu waktu sholat yang ditinggalkan adalah bentuk peringatan serius agar kita tidak lalai dalam menjalankan kewajiban kepada Allah.
Fokus pada Akhirat
Renungan akhir tahun adalah momen yang tepat untuk memperbaiki diri. Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara. Fokuslah pada akhirat, karena di sanalah kehidupan yang sesungguhnya dimulai. Allah berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 64:
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
Maka, mari kita gunakan waktu dengan bijak. Perbanyak amal, jaga sholat, dan tingkatkan kesadaran akan tujuan hidup yang sebenarnya.
Menghidupkan Semangat untuk Berbagi dan Mengingatkan
Renungan ini tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk saling mengingatkan sesama. Rasulullah SAW bersabda:
"Sampaikan dariku walau hanya satu ayat."(HR. Bukhari)
Pesan ini menegaskan bahwa dakwah tidak selalu harus dengan hal besar; bahkan pengingat kecil, seperti pentingnya waktu atau kewajiban sholat, dapat menjadi amal jariyah yang membawa manfaat bagi banyak orang. Saat Anda menyampaikan pesan yang baik (termasuk tulisan ini) kepada banyak orang, berarti Anda semua para pembaca ikut berperan dalam kebaikan yang terus mengalir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Barangsiapa yang mengajarkan kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun." (HR. Muslim)
Peran Refleksi dan Doa di Akhir Tahun
Akhir tahun adalah waktu yang baik untuk bermuhasabah. Mari kita tanyakan pada diri sendiri:
- Sudahkah kita bersyukur atas nikmat waktu yang diberikan Allah?
- Apa saja hal baik yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini?
- Apakah semua yang menjadi kewajiban kita sudah kita tunaikan?
- Apakah semua hak orang lain yang ada pada kita sudah kita berikan?
- Apa yang perlu kita perbaiki agar menjadi hamba yang lebih baik di tahun mendatang?
Salah satu cara untuk mengakhiri tahun dengan berkah adalah memperbanyak istighfar dan berdoa. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk memperbanyak doa, terutama dalam meminta ampunan dan keberkahan di masa depan.
Menghidupkan Amal di Tahun Baru
Sebagai langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik mari kita bersama-sama untuk:
- Perbanyak Sholat Sunnah: Jadikan tahajjud, dhuha, dan rawatib sebagai amalan rutin.
- Sedekah: Tidak harus dalam jumlah besar; keikhlasan lebih utama.
- Meningkatkan Ilmu Agama: Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an, hadits, atau menghadiri majelis ilmu.
- Memperbaiki Akhlak: Jadilah pribadi yang lebih sabar, pemaaf, dan peduli terhadap sesama.
Mengapa Penting untuk Menjaga Fokus Akhirat?
Allah telah menciptakan dunia ini sebagai tempat ujian. Kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat, seperti yang difirmankan dalam surah Al-Hadid ayat 20:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan”
Maka, mari kita jadikan setiap perbuatan di dunia sebagai investasi untuk akhirat. Jika fokus kita adalah akhirat, maka dunia pun akan mengikuti, sebagaimana janji Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 201:
"Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."
Penutup
Sebagai penutup, mari bersama-sama kita sadari bahwa akhir tahun bukan hanya tentang pergantian kalender, tetapi juga pengingat bahwa waktu kita di dunia semakin singkat. Jadikan setiap detik sebagai ladang pahala, perbanyak dzikir, sedekah, dan amal kebaikan lainnya.
Harapan dan Doa di Penghujung Tahun
Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri, memperpanjang umur dalam keberkahan, dan menutup tahun ini dengan ampunan-Nya. Mari kita awali tahun baru dengan niat yang kuat untuk menjadi hamba yang lebih taat, penuh syukur, dan bermanfaat bagi sesama.
*) Kasi Kominfo BPIC