Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

RASA INGIN TAHU

Oleh: Djoko Iriandono, S.E. M.A.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan “Rasa Ingin Tahu”. Sejak zaman manusia purba pertama kali memandangi benda-benda langit (bulan, bintang dan matahari) sampai manusia modern yang hidup di zaman yang penuh dengan keajaiban teknologi seperti sekarang ini, rasa ingin tahu lah yang menjadi kekuatan dasar yang mendorong manusia untuk mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dibenaknya. Dengan rasa ingin tahu ini manusia pada akhirnya dapat mengumpulkan pengetahuan dan mencapai berbagai kemajuan.

Apa sebenarnya rasa ingin tahu itu? Rasa ingin tahu adalah keingintahuan manusia yang tidak terpuaskan untuk menjelajahi, bertanya, dan mencari pemahaman tentang yang tidak diketahui. Rasa ingin tahu ini merupakan bawaan manusia sejak mereka dilahirkan di muka bumi. Dengan rasa ingin tahu ini manusia terdorong untuk bertanya, menggali, dan merenungkan misteri yang mengelilinginya. Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk memulai perjalanan penemuan, baik di dalam diri maupun di luar diri, ketika mereka berusaha mengungkap kompleksitas eksistensi.

Dengan rasa ingin tahu, manusia akan merasa dahaga akan pengetahuan. Hal ini merupakan dorongan batin yang memungkinkan manusia untuk mengumpulkan kebijaksanaan dari generasi ke generasi dan terus berupaya untuk membangun penemuan para pendahulunya. Rasa ingin tahu memungkinkan manusia untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, menantang keyakinan yang ada, dan mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang diri manusia itu sendiri dan alam semesta. Melalui eksplorasi intelektual ini, manusia menjalin hubungan antara bidang yang tampaknya tidak berhubungan, memfasilitasi kemajuan lintas disiplin yang mendorong batas pemahaman manusia.

Jika rasa ingin tahu itu merupakan bawaan dari setiap diri manusia sejak ia lahir, lalu mengapa ada manusia yang kritis (suka bertanya) dan ada pula yang kurang atau bahkan tidak kreatif? Hal ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya yaitu faktor lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Kita sering mendengar cerita dari banyak orang tua yang mengatakan bahwa anak-anak mereka ketika berumur di bawah 7 tahun selalu bertanya dan bertanya, di mana pada suatu titik tertentu orang tua tidak lagi mampu menjawab pertanyaan anaknya. Ketika itu terjadi umumnya para orang tua mengatakan kepada anak-anaknya, “kamu ini cerewet bertanya terus, sudah diam.” Setelah mendengar hal tersebut bisanya anak akan diam. Namun karena rasa ingin tahu meledak-ledak dan mendorong terus menerus kepada anak tersebut, maka tanpa disadari anak itu akan bertanya lagi. Lagi-lagi ketika orang tua tidak menjawab maka orang tua akan menggunakan senjata pamungkasnya, yaitu melarang anaknya untuk bertanya, dan benar anak tersebut akhirnya diam. 

Hal semacam itu juga terjadi di sekolah. Jika ada murid yang selalu bertanya maka umumnya para guru memarahi anak yang suka bertanya tersebut. Terlebih lebih jika gurunya juga tidak mampu menjawab pertanyaan siswa. Biasanya guru akan mengatakan : ”sudah kamu nggak usah bertanya terus, beri kesempatan temanmu yang lain untuk bertanya”. Celakanya ketika anak tumbuh dewasa dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang tidak demokratis, keinginan bertanya ini akan semakin hilang. Mereka takut bertanya, apalagi mengkritiknya. Mereka takut dianggap sebagai orang yang suka mengganggu ketertiban umum. Pada akhirnya mereka pilih lebih baik diam.

Rasa ingin tahu yang terpelihara dengan baik akan memainkan peran kunci dalam pertumbuhan dan perkembangan individu. Saat seorang individu merangkul rasa ingin tahunya, berarti ia membuka diri untuk pengalaman dan gagasan baru, mendorong mentalitas pertumbuhan yang mendorong ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Individu yang penuh rasa ingin tahu lebih bersedia mengambil risiko, tidak takut akan kegagalan, karena mereka menyadari potensi pembelajaran dalam setiap usaha. Dengan menjaga dan membina rasa ingin tahu, seorang individu akan menjadi pembelajar sepanjang hayat, terus berkembang melebarkan cakrawalanya.

Rasa ingin tahu sesungguhnya bukan hanya milik para akademisi; rasa ingin tahu juga mencakup pemahaman setiap individu terhadap sesama manusia. Dengan mendekati orang lain dengan rasa ingin tahu yang tulus, akan dapat menumbuhkan empati dan kasih sayang, meruntuhkan penghalang yang memisahkan kita dan membangun jembatan pemahaman. Rasa ingin tahu mendorong kita untuk bertanya tentang budaya, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda dari milik kita sendiri, memfasilitasi saling menghormati dan penghargaan terhadap keberagaman.

Setiap gagasan revolusioner dalam sejarah kemajuan manusia berasal dari pikiran yang penuh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk menantang status quo, mengidentifikasi masalah, dan mencari solusi baru. Ini adalah kekuatan di balik terobosan ilmiah, karya seni, dan kemajuan teknologi di muka bumi.

Rasa ingin tahu yang mendalam membuka pintu untuk peningkatan pengetahuan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai contoh, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat tidak akan mungkin terjadi tanpa rasa ingin tahu para ilmuwan dan insinyur yang berusaha memahami cara kerja alam semesta dan mencari cara untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi. Begitu pula, ilmuwan medis yang ingin mengerti penyakit dan cara mengatasinya terus mengejar rasa ingin tahu mereka untuk mencari solusi kesehatan yang lebih baik bagi umat manusia.

Melalui rasa ingin tahu, manusia terus berusaha untuk memecahkan teka-teki yang belum terpecahkan, menjelajahi daerah yang belum dijelajahi, dan merintis jalan ke arah kemajuan yang lebih besar. Selain itu, rasa ingin tahu juga mendorong kolaborasi antara individu dan kelompok, baik di tingkat lokal maupun global. Pertukaran gagasan dan pengetahuan melalui diskusi dan penelitian bersama menghasilkan penemuan yang luar biasa dan pemecahan masalah yang inovatif.

Meskipun rasa ingin tahu merupakan sifat bawaan, namun ia membutuhkan pemeliharaan dan perlindungan agar berkembang. Para orang tua di rumah dan guru di sekolah harus memberi wadah dan menyirami terus menerus agar benih rasa ingin tahu ini dapat tumbuh subur. Jangan sampai terjadi yang sebaliknya dimana orang tua dan guru tanpa disadari telah membunuh rasa ingin tahu anak atau para siswa. Jika orang tua dan guru takut tidak bisa menjawab pertanyaan para siswa maka mereka harus terus belajar dan belajar. Atau setidaknya berusaha memiliki teknik tentang cara menjawab pertanyaan anak tanpa harus membuat anak merasa takut untuk terus bertanya. 

Mendorong budaya rasa ingin tahu melibatkan menciptakan lingkungan yang menghargai kemampuan bertanya, berpikir kritis, dan menjelajah. Di lingkungan pendidikan, mempromosikan pembelajaran berbasis pertanyaan dan mendorong siswa untuk mengejar minat mereka dapat merangsang rasa ingin tahu dan pertumbuhan intelektual.

Rasa ingin tahu adalah api yang selalu menyala yang mendorong keinginan akan pengetahuan, pertumbuhan pribadi, dan inovasi. Ia telah mendorong umat manusia untuk mengungkap misteri alam semesta dan diri kita sendiri. Dengan membina dan merangkul rasa ingin tahu, kita dapat menumbuhkan masyarakat yang menghargai pembelajaran, empati, dan kreativitas. Melalui komitmen yang teguh terhadap eksplorasi, kita dapat terus menerangi jalan menuju kemajuan dan menciptakan masa depan yang lebih cerah dan penuh pencerahan untuk semua orang. Sekali lagi saya ingin berpesan kepada para orang tua dan guru jangan hanya mampu membuat anak menjadi pendengar dan pelaksana (sami'na wa atho'na) yang baik tetapi juga menjadi pembelajar yang baik yaitu menjadi individu yang haus akan rasa ingin tahu atau yang selalu bertanya dan bertanya . Oleh sebab itu jangan bunuh rasa ingin tahu mereka. 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi