Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Menoleh ke Belakang Tanpa Menyesal, Melangkah ke Depan dengan Doa

Oleh: Djoko Iriandono*)

Hari ini adalah hari kedua di tahun 2026. Libur awal tahun telah usai. Jalanan kembali ramai, meja kerja kembali dipenuhi berkas, jika saja bukan hari libur semester ganjil pasti hari ini ruang kelas kembali dipenuhi suara, dan ritme kehidupan perlahan kembali ke jalurnya. Tidak ada lagi hitung mundur, tidak ada lagi gemerlap perayaan. Yang tersisa hanyalah kita—dengan diri kita sendiri, dengan tugas yang menunggu, dan dengan waktu yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan.

Di titik inilah, awal tahun menemukan maknanya yang paling jujur. Bukan pada euforia pergantian angka, tetapi pada kesediaan hati untuk merenung, menerima, dan memperbaiki.

Menoleh ke Belakang: Bukan untuk Terjebak

Setiap orang membawa cerita dari tahun yang telah berlalu. Ada yang menutupnya dengan senyum syukur, ada pula yang mengakhiri dengan luka, penyesalan, atau kelelahan batin. Namun Islam mengajarkan satu sikap penting dalam memandang masa lalu: belajar tanpa terikat, mengingat tanpa tenggelam.

Menoleh ke belakang bukan berarti hidup di masa lalu. Ia adalah proses muhasabah—menghitung, menimbang, dan menyadari. Apa yang sudah kita lakukan dengan waktu? Dengan amanah? Dengan orang-orang yang Allah titipkan dalam hidup kita?

Penyesalan yang berlarut-larut tidak mengubah apa pun. Sebaliknya, ia justru bisa melumpuhkan langkah ke depan. Karena itu, Islam tidak mengajarkan kita untuk meratapi kesalahan, tetapi bertaubat dan bangkit. Taubat bukan sekadar permintaan ampun, melainkan keputusan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

Di hari-hari awal tahun seperti ini, menoleh ke belakang seharusnya membuat kita lebih rendah hati, bukan lebih keras pada diri sendiri.

Rutinitas: Ujian Konsistensi Iman

Hari kedua tahun 2026 terasa biasa. Tidak istimewa. Justru di situlah ujiannya. Iman tidak diuji pada momen besar saja, tetapi pada rutinitas yang berulang. Pada kejujuran saat bekerja. Pada kesabaran menghadapi rekan. Pada keikhlasan mengajar, mendidik, melayani, dan menjalankan amanah.

Banyak orang bersemangat di awal tahun, tetapi kembali ke kebiasaan lama di minggu-minggu berikutnya. Padahal dalam Islam, amal yang paling dicintai Allah adalah yang kecil tetapi konsisten. Rutinitas yang dijalani dengan niat yang lurus akan berubah menjadi ibadah.

Maka ketika kita kembali bekerja hari ini, sesungguhnya kita sedang memulai lembar baru yang sesungguhnya—bukan di kalender, tetapi di hati.

Melangkah ke Depan: Antara Usaha dan Tawakal

Melangkah ke depan menuntut keberanian. Masa depan tidak pernah sepenuhnya jelas. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di bulan-bulan mendatang. Namun Islam mengajarkan keseimbangan yang indah: berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Doa bukan pengganti usaha, dan usaha bukan pengganti doa. Keduanya harus berjalan bersama. Ketika kita berdoa, kita sedang mengakui keterbatasan diri. Ketika kita berusaha, kita sedang menunaikan tanggung jawab.

Melangkah ke depan dengan doa berarti melangkah dengan kesadaran bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian dunia, tetapi juga tentang nilai, adab, dan keberkahan. Tidak semua yang besar itu baik, dan tidak semua yang kecil itu sia-sia.

Pendidikan Hati di Awal Tahun

Awal tahun sejatinya adalah momentum pendidikan batin. Bukan hanya untuk anak-anak di sekolah, tetapi untuk orang dewasa yang sering merasa sudah “selesai belajar”. Padahal hidup adalah madrasah tanpa kelulusan sampai ajal menjemput.

Apa yang ingin kita perbaiki tahun ini?
Lisan yang terlalu mudah menyakiti?
Sikap yang terlalu cepat menghakimi?
Atau ibadah yang masih sebatas rutinitas tanpa kehadiran hati?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar langkah ke depan tidak sekadar bergerak, tetapi bermakna.

Doa sebagai Arah, Bukan Pelarian

Sering kali doa dipahami hanya sebagai permohonan saat terdesak. Padahal doa adalah penentu arah hidup. Dengan doa, kita belajar menyelaraskan keinginan pribadi dengan kehendak Ilahi. Tidak semua yang kita inginkan baik bagi kita, dan tidak semua yang tertunda adalah keburukan.

Melangkah ke depan dengan doa berarti melangkah dengan kesabaran, dengan harapan yang realistis, dan dengan kesiapan menerima takdir—baik yang manis maupun yang pahit.

Doa juga mengajarkan kita untuk tidak berjalan sendirian. Dalam doa, kita menyebut orang tua, keluarga, guru, murid, sahabat, bahkan mereka yang menyakiti kita. Dari situlah lahir kelapangan hati.

Tahun Baru, Hati yang Baru

Hari kedua tahun 2026 ini mungkin terasa biasa. Namun justru di hari-hari biasa inilah masa depan dibentuk. Bukan oleh resolusi yang indah, tetapi oleh niat yang lurus dan langkah yang konsisten.

Menoleh ke belakang tanpa menyesal berarti menerima masa lalu sebagai guru, bukan algojo. Melangkah ke depan dengan doa berarti berjalan dengan keyakinan, bukan ketakutan.

Semoga tahun ini bukan hanya membawa perubahan pada jadwal dan target, tetapi juga pada kedewasaan iman, keluasan hati, dan kualitas amal. Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang bukanlah pencapaian dunia, melainkan jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi