Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Menghadapi Kenyataan: Menerima Pensiun dan Merelakan Kekuasaan

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)

Pensiun adalah sebuah kondisi dimana seseorang tidak bekerja lagi karena sudah memasuki usia yang secara umum dipandang sebagai usia tidak produktif. Hal ini berlaku bagi pegawai pemerintah maupun pegawai swasta. Banyak orang yang merasa senang ketika memasuki masa pensiun, bahkan ada sebagian orang yang sampai-sampai meminta pensiun walau belum memasuki usia pensiun (pensiun dini). Hal ini disebabkan karena mereka beranggapan bahwa dengan pensiun mereka telah terbebas dari rutinitas pekerjaan yang telah menghimpit dan membenani perasaan mereka selama ini. Apalagi jika mereka menduduki suatu jabatan yang mengandung resiko tinggi dan sering bersinggungan dengan masalah hukum. Ketika masa pensiun ini tiba mereka benar-benar merasa bebas dan mereka berfikir sekaranglah saatnya untuk relaksasi dan bersenang senang setelah bertahun-tahun bekerja keras.

Namun di sisi lain, tidak jarang orang yang justru merasa cemas dan takut menghadapi masa pensiun. Ketakutan ini muncul karena mereka merasa tidak siap untuk menghadapi kenyataan-kenyataan yang bakal terjadi. Dahulu ketika masih bekerja mereka banyak mendapatkan uang. Selain gaji mereka juga biasa menerima tunjangan jabatan, insentif dan  uang perjalanan dinas dan uang dalam bentuk lain yang tak terduga. Namun ketika pensiun mereka hanya akan menerima paling banyak 75% dari gaji pokoknya. Apalagi jika mereka berfikir masih ada beberapa anak yang masih harus dibiayai.

Kondisi lain yang membuat cemas dan munculnya rasa takut untuk menghadapi masa pensiun adalah hilangnya identitas pekerjaan. Mereka menyadari betul bahwa ketika pensiun mereka telah memasuki babak kehidupan baru yang tidak lagi didominasi oleh kekuasaan dan tanggung jawab yang sama seperti masa lalu. Ada kegamangan dalam hati mereka. Mereka takut tidak ada lagi orang yang menghargainya. Mereka takut disisihkan dari pergaulan (terisolasi). Dalam esai ini, Penulis akan menjelajahi ketakutan yang umum terkait masa pensiun dan bagaimana mengatasinya.

Proses pensiun adalah tahapan alami dalam kehidupan manusia. Namun demikian ada fenomena yang menarik untuk dibahas terkait pensiun ini yaitu adanya cukup banyak orang yang menghadapi kesulitan dalam menerima kenyataan bahwa mereka telah pensiun dan tidak lagi memiliki kekuasaan lagi. Mengapa banyak orang menghadapi tantangan dalam menerima kenyataan pensiun dan kehilangan kekuasaan yang sebelumnya mereka miliki?.

Diakui atau tidak bahwa pekerjaan yang telah dirintis oleh para profesional dari level yang paling bawah sampai pada ahkirnya menduduki level yang cukup tinggi atau bahkan paling tinggi dapat memberikan rasa identitas yang kuat bagi mereka. Belum lagi jika mereka memiliki kekuasaan karena jabatan yang didudukinya. Mereka akan mendapat pengakuan dan penghargaan atas posisi dan pekerjaan mereka. Ketika masa pensiun itu tiba, perubahan identitas ini dapat menjadi sulit untuk diterima. Karena mereka harus menyesuaikan diri dengan peran yang baru, tanpa kekuasaan dan tanggung jawab yang sebelumnya mereka nikmati. Menerima kenyataan ini dapat memerlukan waktu dan usaha yang signifikan.

Bagi mereka yang terbiasa menjalankan kekuasaan dengan semena-mena (power syndrome), kehilangan kekuasaan dan posisi akibat dari pensiun dapat menyebabkan perasaan kehilangan yang mendalam. Dahulu saat masih menduduki jabatan, segala sesuati disiapkan oleh bawahan. Semua orang hormat kepadanya. Mau naik dan turun mobil dinas mesti menunggu dibukakan oleh sopir. Saat hari raya idul fitri, melaksanakan acara Open House. Pada saat itu semua bawahan pada datang.

Namun, ketika pensiun mereka harus naik turun mobil dengan menyetir sendiri, saat lebaran tiba tidak lagi mengadakan acara “open house” karena tidak ada lagi orang-orang yang mau datang ke rumahnya, mereka justru mendatangi “BOS”-nya yang baru. Orang-orang yang dahulu manaruh rasa hormat dan membungkuk ketika lewat di hadapannya, sekarang tidak lagi. Dalam kondisi seperti ini banyak orang yang merasa bahwa hidup mereka telah kehilangan arti atau pentingnya, dan sulit menemukan tujuan baru yang dapat memberikan kepuasan dan rasa pencapaian yang serupa dengan masa lalu. Pada akhirnya suka atau tidak suka mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka sudah bukan siapa-siapa lagi. Mereka harus merelakan kekuasaan tidak lagi ada padanya dan hal ini akan menghasilkan perasaan tak berdaya atau kehilangan tujuan hidup.

Banyak orang yang merasa sangat sulit menghadapi situasi dimana saat sudah pensiun mereka harus berurusan dengan orang lain di luar kendali mereka. Banyak orang yang saat menjabat menikmati kekuasaan dan otoritas selama karir profesional mereka. Bahkan seringkali terbiasa dengan rasa kontrol dan kemampuan untuk mengendalikan situasi. Namun pensiun menghilangkan kekuasaan dapat memaksa mereka untuk menghadapi keadaan di mana mereka tidak lagi memiliki kendali sama sekali. Hal ini bisa menjadi sulit bagi kebanyakan orang yang terbiasa dengan situasi yang terstruktur dan terkontrol. Ketidakmampuan untuk menerima kenyataan ini bisa jadi karena adanya rasa ketakutan, kehilangan rasa aman, atau keengganan untuk melepaskan kontrol.

Menyadari bahwa masa pensiun adalah tahap perubahan yang signifikan dalam kehidupan dapat membantu memahami mengapa banyak orang kesulitan menerima kenyataan tersebut. Perubahan ini melibatkan penyesuaian terhadap peran yang baru, pengaturan waktu yang berbeda, dan menemukan cara baru untuk merasa bermanfaat dan memiliki arti. Menyesuaikan diri dengan perubahan semacam ini bisa membutuhkan waktu dan usaha yang cukup, terutama jika seseorang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam lingkungan yang berbeda.

Tindakan yang dapat diambil untuk membantu kita dalam menerima kenyataan pensiun dan merelakan kekuasaan adalah sebagai berikut:

Pertama, kita harus mau mengakui dan menyadari bahwa kehilangan kekuasaan adalah sesuatu yang wajar dan hal ini pasti akan dialami oleh semua orang. Kita hendaknya berupaya untuk memberikan ruang dan waktu guna merenung tentang peran dan identitas sebelumnya, serta mengenali emosi yang muncul. Hal ini akan dapat membantu memahami tantangan yang sedang dan akan kita hadapi.

Ke dua, berbagilah pengalaman dengan orang-orang yang telah mengalami situasi serupa (kelompok/group pensiunan) untuk mendapatkan perspektif yang berharga. Lakukanlah percakapan dan interaksi dengan teman atau keluarga untuk mendapatkan dukungan mereka. Dengan cara ini kita akan merasa didengar, dipahami, dan mendapatkan dukungan yang kita butuhkan.

Ke tiga, Banyak diantara kita yang berpendapat bahwa pensiun berarti akhir dari segalanya. Hal ini salah besar. Saat mendekati pensiun atau bahkan saat memasuki masa pensiun rencanakanlah kegiatan baru yang memberikan rasa pencapaian, termasuk melalui kegiatan sukarela, hobi, atau belajar hal baru. Hal ini akan dapat membantu kita menemukan tujuan dan makna baru dalam hidup. Rasa puas dalam kehidupan yang penuh makna, akan kita dapatkan ketika kita mampu mengidentifikasi dan mengejar minat dan aspirasi baru tersebut.

Ke empat, kita harus menerima dan mengakui sebuah kenyataan bahwa perubahan telah terjadi. Kita harus mampu menjaga keseimbangan dan beradaptasi bahwa kekuasaan yang selama ini kita pegag erat-erat sekarang sudah tidak ada lagi. Oleh sebab itu kita harus mampu menemukan cara untuk merangkul perubahan tersebut dengan sikap terbuka. Kita harus mampu beradaptasi dengan peran baru.

Ke lima, selama periode transisi, kita harus fokus pada kesehatan fisik dan mental. Berolahraga secara teratur, menjaga pola makan yang sehat, menjalin hubungan sosial yang positif, dan merawat diri sendiri secara menyeluruh akan membantu kita menghadapi tantangan dengan lebih baik.

Ke enam, Usahakan untuk dapat mengikuti kursus atau pelatihan baru. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat membantu memperbarui keterampilan dan mempersiapkan diri untuk peran baru atau kesempatan baru yang mungkin muncul. Jangan pernah berfikir bahwa pensiun berarti berhenti berkreasi. Bukalah pikiran dan terimalah pandangan yang menyatakan bahwa belajar adalah proses seumur hidup .

Terakhir, pensiun berarti memberikan kesempatan bagi kita untuk menikmati waktu luang dan mengeksplorasi kegiatan yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan waktu. Menikmati hobi, liburan, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih dapat membantu kita menemukan keseimbangan baru dalam hidup dan menikmati kebebasan yang pensiun tawarkan.

Menerima kenyataan pensiun dan kehilangan kekuasaan yang sebelumnya dimiliki adalah tantangan yang umum dihadapi oleh banyak orang. Perubahan identitas, rasa kehilangan dan kurangnya tujuan, ketergantungan pada kekuasaan, serta kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan, semuanya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menerima kenyataan tersebut. Penting bagi individu yang menghadapi situasi ini untuk memberi waktu pada diri mereka sendiri, mengembangkan identitas baru, menemukan tujuan baru, dan secara bertahap membiarkan diri mereka beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Melalui kombinasi refleksi pribadi, dukungan sosial, adaptasi terhadap peran baru, dan mencari tujuan dan makna baru, seseorang dapat lebih mudah menerima kenyataan pensiun dan merelakan kekuasaan yang telah berakhir. Ini adalah perjalanan yang unik bagi setiap individu, dan penting untuk memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk berkembang dan menemukan kehidupan yang memenuhi dan bermakna setelah pensiun.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi