Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Mengapa Kita Cenderung Sulit Menerima Kritik, Walau Kritik itu Bersifat Membangun?

Oleh: Djoko Iriandono, S.E.M.A.*)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mendapatkan kritik dari orang lain. Namun, terkadang sulit bagi kita untuk menerima kritik dengan lapang dada, terlepas dari apakah kritik tersebut bersifat destruktif ataupun bersifat konstruktif. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang menarik: mengapa kita cenderung merasa sulit untuk menerima kritik, bahkan ketika kritik tersebut sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki diri?

Menurut M Jazuli (2001) kritik berasal dari bahasa Yunani kritikos yang berarti "dapat didiskusikan". Sedang menurut Wikipedia, kritik didifinisikan sebagai proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Sementara itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Jadi kritik dapat diartikan sebagai penilaian, evaluasi, atau umpan balik yang diberikan terhadap suatu hal atau individu.

Dari beberapa pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa kritik dapat bersifat positif atau negatif. Hal ini tergantung pada cara pengungkapannya dan tujuan di balik kritik tersebut. Kritik yang membangun atau konstruktif bertujuan untuk memberikan masukan yang bermanfaat dan membantu individu atau situasi berkembang dan memperbaiki diri. Kritik semacam ini biasanya disampaikan dengan sikap yang menghormati dan menggunakan bahasa yang jelas dan terarah.

Namun, kritik juga bisa bersifat merusak atau destruktif. Kritik semacam ini cenderung bersifat menghakimi, tidak konstruktif, atau bahkan merendahkan. Kritik semacam ini lebih berfokus pada menyalahkan atau menghancurkan harga diri orang yang menerima kritik, daripada memberikan saran dan bantuan untuk perbaikan.

Kritik sering kali berfungsi sebagai cara untuk mengungkapkan ketidakpuasan, kekurangan, atau kelemahan dalam suatu hal, baik itu dalam karya seni, prestasi kerja, perilaku, atau ide-ide yang diutarakan. Namun juga tidak jarang kritik dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki atau membuat sesuatu menjadi lebih baik.

Penting untuk diingat bahwa kritik, baik yang membangun maupun yang merusak, merupakan pandangan atau pendapat subjektif orang lain. Cara kita merespons kritik tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada pemahaman dan persepsi kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempertimbangkan niat, konteks, dan substansi kritik tersebut sebelum menentukan cara meresponsnya.

Dalam esai ini, Penulis akan mencoba untuk menggali beberapa faktor psikologis yang mungkin dapat menjelaskan mengapa kita cenderung defensif terhadap kritik dan bagaimana cara kita melatih diri untuk lebih terbuka terhadap kritik yang bersifat membangun. Berikut adalah faktor-faktor yang mungkin sebagai penyebabnya:

  1. Pada umumnya orang beranggapan bahwa ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang memberikan kritik kepadanya hal itu dianggapnya sebagai serangan terhadap harga diri atau kemampuannya. Jadi ketika kritik mengarah kepada sesuatu yang dianggapnya sangat penting seperti nilai-nilai personal atau kemampuan profesional, maka ia cenderung membela diri sebagai bentuk respons alami untuk melindungi diri.
  2. Reaksi defensif terhadap kritik adalah bentuk mekanisme pertahanan psikologis yang disadari atau tidak akan muncul secara tiba-tiba dan tidak terencana. Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dari rasa tidak aman dan ketidaknyamanan. Jadi reaksi defensif ini bersifat otomatis dan alamiah dalam upaya mempertahankan diri.
  3. Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan atau budaya di mana kritik dianggap sebagai hal yang negatif atau dihindari, maka orang tersebut mungkin terbiasa untuk menolak kritik dengan cara yang defensif. Jadi sulitnya menerima kritik ini juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan lingkungan sosial dimana orang tersebut tinggal. Selain itu, pengalaman masa lalu di mana kritik pernah disampaikan secara tidak membangun dapat meninggalkan bekas dan membuat seseorang lebih bersifat skeptis terhadap kritik yang sebenarnya bermanfaat.
  4. Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa jika menerima kritik dengan terbuka hal itu berarti harus mengakui bahwa dirinya tidak sempurna dan mungkin memiliki kekurangan. Anggapan semacam ini juga ikut mendorong timbulnya perasaan sulit menerima kritik. Bahkan ada orang yang merasa bahwa menerima kritik akan mengancam hubungan sosial atau menyebabkan orang lain meragukan kemampuannya.

Merasa defensif terhadap kritik adalah normal dan alamiah. Hal ini dapat terjadi pada siapapun, apakah itu terhadap orang yang tidak terdidik atau bahkan seorang profesor sekalipun. Namun sebenarnya kita dapat melatih diri untuk bersifat lebih terbuka agar dapat menerima kritik dengan sikap yang lapang dada demi tumbuh kembangnya pribadi yang lebih baik. Beberapa contoh langkah yang dapat dilakukan diantaranya:

  1. Meluangkan sedikit waktu untuk merefleksi diri guna mengenali dan sekaligus mengakui kelemahan dan kekuatan diri. Merenung dan menanamkan ke dalam pikiran dan hati secara mendalam bahwa sesungguhnya dengan kritik kita akan menjadi individu yang lebih baik. Jadi mengapa kita harus takut dikritik
  2. Ketika kritik itu datang usahakan untuk tidak langsung merespon. Ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan mengelola emosi dengan baik, agar dapat menghadapi kritik dengan sikap yang lebih terbuka dan obyektif. Hal ini sangat perlu untuk dilakukan karena kritik dapat memicu emosi yang kuat, seperti kemarahan atau frustrasi. Jadi penting untuk belajar mengelola emosi tersebut dan menghindari merespons secara impulsif.
  3. Berfikirlah positif dan pahami bahwa kritik sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Lihatlah kritik sebagai sumber wawasan baru dan kesempatan untuk perbaikan yang dapat membantu Anda untuk lebih terbuka terhadap umpan balik. Tanyakan pada diri Anda sendiri, "Apa yang dapat saya pelajari dari kritik ini?" atau "Bagaimana kritik ini dapat membantu saya menjadi lebih baik?"
  4. Berkomunikasilah secara terbuka dengan orang yang memberikan kritik karena hal ini akan dapat membantu Anda memahami sudut pandang mereka dan mencari solusi yang saling menguntungkan. Jadi ketika menerima kritik, penting untuk mendengarkan dengan seksama dan mengajukan pertanyaan jika perlu untuk memperjelas apa yang dimaksudkan oleh pengkritik tersebut.
  5. Kesadaran untuk menerima kritik dengan lapang dada adalah keterampilan yang dapat dilatih. Oleh sebab itu usahakan untuk mengikuti pelatihan pengembangan diri, karena hal ini juga dapat membantu Anda memperbaiki kemampuan menerima kritik. Melalui praktik yang konsisten, Anda dapat memperkuat ketahanan emosional dan kemampuan untuk menerima kritik secara konstruktif. Meskipun sulit, menerima kritik dengan sikap yang terbuka dan membangun merupakan langkah penting dalam pertumbuhan pribadi dan profesional kita. Oleh sebab itu berjuanglah untuk dapat menerima kritik.

Dengan memahami faktor-faktor psikologis terurai di atas yang mempengaruhi respons kita terhadap kritik, kita dapat mengatasi kecenderungan defensif dan melihat kritik sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. Dengan mempraktikkan penerimaan kritik yang konstruktif, kita dapat memperkuat diri kita sendiri dan menjadi individu yang lebih baik.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa menerima kritik bukan berarti kita tidak memiliki keberhasilan atau kemampuan yang cukup. Sebaliknya, itu adalah tanda dari keinginan kita untuk terus berkembang dan meningkatkan diri. Dalam konteks yang sehat, kritik yang bersifat membangun dapat menjadi instrumen penting dalam proses pembelajaran dan pertumbuhan diri. Selain itu juga penting untuk diingat bahwa kritik adalah pandangan yang bersifat sangat subyektif dan belum tentu benar. Oleh sebab itu tidak perlu terlalu sensitif dalam menghadapi kritik.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi