Oleh: Djoko Iriandono*)
Sejak menjelang subuh, Kota Samarinda diguyur hujan yang cukup deras. Udara terasa dingin, membuat rasa malas sempat menyelinap untuk beranjak dari tempat tidur. Namun suara azan subuh yang sayup-sayup mengalun merdu dari pengeras suara mushala yang tidak jauh dari rumah membangkitkan semangat untuk segera bangun, berwudu, dan menunaikan salat subuh.
Usai menunaikan rangkaian ibadah, barulah saya tersadar bahwa hari ini adalah tanggal merah—hari libur nasional dalam rangka peringatan salah satu Hari Besar Islam, yakni Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ. Kesadaran itu mendorong saya untuk kembali merenung tentang makna peristiwa agung ini, dan dari sanalah muncul keinginan untuk menuliskannya, bukan sekadar mengulang ceramah yang sering kita dengar atau menuliskan kembali artikel yang telah banyak ditulis orang, tetapi mencoba memaknainya dari sudut pandang iman sekaligus akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia.
Peristiwa Agung yang Menggetarkan Iman dan Mengajak Akal Berpikir
Pada suatu malam yang sunyi di Kota Makkah, ketika sebagian besar manusia terlelap dalam kelelahan hidup, sebuah peristiwa luar biasa terjadi—peristiwa yang hingga hari ini terus menggetarkan hati orang beriman sekaligus mengajak akal untuk merenung lebih dalam.
Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dilanjutkan naik menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat yang tidak dapat dilampaui makhluk mana pun selain dengan izin Allah.
Peristiwa ini secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isrā’: 1)
Ayat ini bukan hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga tujuannya: agar Nabi diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan sekadar melakukan perjalanan fisik.
Antara Mukjizat dan Hukum Alam
Kata asrā (memperjalankan) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa yang melakukan perjalanan adalah “hamba-Nya” secara utuh, bukan hanya ruh, tetapi juga jasad. Dalam banyak sumber bacaan kita dapatkan bahwa mayoritas ulama Ahlus Sunnah meyakini bahwa Isra Mi’raj terjadi secara jasmani dan ruhani sekaligus, dalam keadaan sadar, sebagai mukjizat yang melampaui hukum alam.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa pendapat paling kuat di kalangan ulama adalah Isra Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh, berdasarkan zahir nash Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.
Dalam perspektif sains, hukum alam adalah pola keteraturan yang Allah tetapkan bagi alam semesta. Namun mukjizat adalah pengecualian yang justru menegaskan bahwa hukum alam itu sendiri berada di bawah kehendak Sang Pencipta. Maka, sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, tetapi tidak membatasi apa yang Allah mampu lakukan terhadap ciptaan-Nya.
Kecepatan, Waktu, dan Relativitas
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah soal jarak dan waktu. Jarak Makkah–Yerusalem sekitar 1.300 kilometer, belum lagi perjalanan menembus langit. Bagaimana mungkin semua itu terjadi dalam satu malam?
Menariknya, fisika modern justru mengajarkan bahwa waktu tidak bersifat mutlak. Dalam teori relativitas Albert Einstein, waktu dapat melambat bagi objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya. Bahkan dalam fisika partikel, peristiwa dapat berlangsung dalam kerangka waktu yang sangat berbeda tergantung sudut pandang pengamat.
Al-Qur’an jauh sebelumnya telah memberi isyarat bahwa ukuran waktu di sisi Allah berbeda dengan waktu manusia:
“Sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. Al-Hajj: 47)
Dan dalam ayat lain disebutkan:
“Para malaikat dan ruh naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
(QS. Al-Ma‘ārij: 4)
Serta:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. As-Sajdah: 5)
Ini bukanlah ayat fisika, melainkan isyarat teologis bahwa dimensi waktu tidak sesederhana yang kita rasakan sehari-hari. Maka, ketidakmampuan manusia memahami mekanisme perjalanan Isra Mi’raj secara ilmiah tidaklah otomatis berarti peristiwa itu mustahil.
Dimensi Realitas yang Belum Terjangkau Indra
Fisika modern juga mengenal teori tentang dimensi tambahan di luar tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Walaupun masih bersifat teoretis, gagasan ini menunjukkan bahwa realitas mungkin jauh lebih luas daripada yang dapat dijangkau oleh pancaindra manusia.
Dalam konteks Isra Mi’raj, kita tentu tidak sedang mengklaim bahwa Nabi ﷺ menempuh perjalanan dengan mekanisme fisika modern. Namun kita dapat memahami bahwa perjalanan tersebut berlangsung dalam tatanan realitas yang tidak sepenuhnya tunduk pada hukum fisika yang kita kenal sekarang.
Dengan kata lain, keterbatasan ilmu bukanlah ukuran keterbatasan kekuasaan Allah.
Buraq: Sarana Ilahi yang Melampaui Zaman
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi ﷺ diperjalankan dengan kendaraan bernama Buraq:
“Didatangkan kepadaku Buraq, hewan berwarna putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, yang setiap langkahnya sejauh pandangan mata.”
(HR. Muslim, no. 162)
Sebagian ulama memahami Buraq sebagai makhluk khusus ciptaan Allah. Sebagian lainnya memandang bahwa selain makhluk, ia juga dapat dipahami sebagai simbol bahwa Allah memperjalankan Nabi dengan sarana yang melampaui teknologi manusia saat itu.
Jika hari ini manusia mampu terbang menembus atmosfer, mengorbit bumi, bahkan mengirim wahana ke planet lain, maka sungguh tidak rasional jika kita meragukan kemampuan Allah untuk memperjalankan hamba-Nya dengan cara yang jauh lebih dahsyat daripada seluruh teknologi manusia.
Tujuan Utama: Lahirnya Perintah Salat
Namun Isra Mi’raj bukanlah tentang perjalanan spektakuler semata. Puncak peristiwa ini justru adalah diturunkannya perintah salat lima waktu.
Dalam hadis panjang tentang Mi’raj disebutkan bahwa salat awalnya diwajibkan lima puluh waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu dengan pahala lima puluh (HR. Bukhari no. 7517; Muslim no. 162).
Ini menunjukkan bahwa hasil terbesar dari perjalanan menembus langit bukanlah pengetahuan kosmik, melainkan kedisiplinan ibadah yang membumi.
Seolah Allah ingin menegaskan: setinggi apa pun spiritualitas seseorang, ia harus diwujudkan dalam hubungan rutin dan konsisten dengan Tuhan.
Dampak Psikologis Ibadah dalam Perspektif Modern
Dalam psikologi modern, praktik spiritual yang teratur terbukti membantu:
- menurunkan tingkat stres,
- meningkatkan kontrol diri,
- memperkuat stabilitas emosi,
- serta memberi makna hidup.
Salat, doa, dan dzikir menjadi semacam spiritual grounding, yang menahan manusia agar tidak hanyut dalam tekanan dunia. Maka Isra Mi’raj bukan hanya mukjizat kosmik, tetapi juga solusi spiritual yang sangat praktis bagi kehidupan manusia sehari-hari.
Iman dan Akal: Dua Sayap Menuju Kebenaran
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal. Yang sering menjadi penghalang justru kesombongan akal, yang merasa segala sesuatu harus tunduk pada logika manusia.
Padahal semangat ilmiah sejati justru bersandar pada kesadaran bahwa pengetahuan selalu berkembang, dan apa yang tidak dapat dijelaskan hari ini bisa jadi dipahami di masa depan. Hal ini terbukti dengan kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi saat ini. Dahulu sepertinya mustahil dan sangat tidak masuk akal jika ada dua orang yang satu berada di Indononesia dan satunya lagi berada di Amerika berkomunikasi secara riil time dengan bertatap muka.
Jadi dalam konteks ini, iman bukan menutup pintu berpikir, tetapi mengajarkan kerendahan hati intelektual: bahwa realitas lebih luas daripada kemampuan manusia untuk memetakannya.
Kerinduan Manusia Akan Transendensi
Di balik diskusi teologis dan ilmiah, Isra Mi’raj menyentuh sisi terdalam manusia: kerinduan untuk naik, untuk melampaui rutinitas dunia, untuk merasa dekat dengan Yang Maha Besar.
Di tengah kehidupan modern yang penuh target, tekanan, dan kompetisi, manusia tetap membutuhkan momen-momen mi’raj kecil—saat berhenti sejenak, menunduk dalam sujud, dan mengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang pencapaian materi.
Jika Nabi ﷺ setelah menembus langit kembali ke bumi untuk membimbing umat, maka kita pun seharusnya menjadikan spiritualitas bukan sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai sumber kekuatan untuk memperbaiki dunia.
Penutup: Ketika Langit Membuka Jalan ke Hati
Isra Mi’raj akan selalu menjadi peristiwa yang melampaui jangkauan penuh akal manusia. Namun justru di situlah keindahannya: ia mengajarkan bahwa hidup tidak hanya tentang apa yang bisa kita ukur dan buktikan di laboratorium, tetapi juga tentang apa yang bisa kita hayati dalam kedalaman iman.
Ilmu membantu kita memahami ciptaan.
Iman membantu kita mengenal Sang Pencipta.
Dan Isra Mi’raj mengajak kita berjalan dengan keduanya, dalam kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan diri.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa jauh kita mampu menjelajah langit yang akan ditanya, melainkan seberapa sering kita mau mendekat kepada Allah dalam sujud yang sederhana, namun penuh makna.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim