Oleh: Djoko Iriandono*)
Pernyataan penuh kepedihan dari seorang staf yang merasa dibenci atasannya selama bertahun-tahun, meski telah berusaha meminta maaf, adalah gambaran nyata betapa racun kebencian dapat menggerogoti dinamika kerja dan kemanusiaan kita. Situasi seperti ini bukan hanya merugikan produktivitas, tetapi lebih dalam lagi, ia melukai hati, merusak akhlak, dan menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Dalam bingkai Islam, hubungan kerja antara atasan dan bawahan adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, adil, dan dilandasi akhlak mulia. Marilah kita renungkan bersama nasehat untuk kedua belah pihak.
Bagi Sang Bawahan: Keteguhan, Introspeksi, dan Ikhlas
Wahai saudaraku yang merasa dijauhi oleh atasanmu,
- Tingkatkan Introspeksi (Muhasabah) dan Perbaikan Diri: Ucapan, "Mungkin kamu tidak menyadari ada sifat kepribadianmu yang kurang baik," patut direnungkan dalam-dalam. Jujurlah pada dirimu sendiri. Adakah sikap egois, kurang menghormati, ceroboh dalam berkata, atau mungkin ketidaksungguhan dalam kerja yang tanpa sadar kamu tunjukkan? Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu memperbaiki diri:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18)
Mintalah feedback jujur dari rekan sejawat yang dapat dipercaya. Perbaiki kekuranganmu, bukan hanya untuk menyenangkan atasan, tetapi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan upaya menjadi hamba yang lebih baik.
- Langkah Proaktif untuk Rekonsiliasi: Jika memang ada kesalahan masa lalu, meskipun hanya perbedaan pendapat yang mungkin disalahtafsirkan, ambil inisiatif untuk meminta maaf dengan tulus dan rendah hati. Jelaskan niat baikmu, akui jika ada kekeliruan dalam cara menyampaikan pendapat, dan nyatakan komitmenmu untuk bekerja sama dengan baik. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang pernah menzalimi saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah dia meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya hari ini, sebelum datang hari (kiamat) yang tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), maka diambilkan dari keburukan orang yang dia zalimi lalu dibebankan kepadanya." (HR. Bukhari)
Permintaan maaf bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kekuatan iman dan kedewasaan.
- Tunaikan Kewajiban dengan Prima (Ihsan): Jika segala upaya rekonsiliasi telah dilakukan namun sikap atasan belum berubah, inilah ujian kesabaran dan keikhlasanmu. Tetaplah bekerja dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan sungguh-sungguh sesuai Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) yang diberikan. Ini adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah:
"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik (ihsan)." (QS. Al-Baqarah: 195)
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (terbaik) dalam segala sesuatu..." (HR. Muslim)
Kerjakan tugasmu seolah-olah atasanmu sangat mencintaimu, atau seolah-olah kamu tidak membutuhkan pengakuannya sama sekali. Lakukan karena Allah semata.
- Sabar dan Tawakal: Menghadapi sikap dingin dan pengabaian yang berkepanjangan adalah ujian berat. Bersabarlah. Ingatlah bahwa kesabaranmu tidak akan sia-sia di sisi Allah:
"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)
Serahkan urusan hatimu kepada Allah. Fokuslah pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan: kinerjamu, akhlakmu, dan hubunganmu dengan Allah serta rekan lain.
Bagi Sang Atasan: Kepemimpinan sebagai Amanah Ilahi
Wahai Pemimpin, yang memikul amanah mengelola manusia,
- Ingatlah Amanat Kepemimpinanmu: Jabatan dan kekuasaan bukan hak mutlak, melainkan amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Sikap membenci, mengabaikan, dan meminggirkan bawahan secara sengaja bertahun-tahun adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya..." (HR. Bukhari & Muslim)
Membiarkan kebencian menguasai hati berarti gagal memimpin dengan adil dan rahmat.
- Berlapang Dadalah (Hilm) dan Maafkanlah (Afwu): Manusia tempat salah dan khilaf. Perbedaan pendapat, bahkan kesalahan, adalah hal manusiawi. Islam mengajarkan untuk mudah memaafkan dan melapangkan dada. Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan Dia memerintahkan hamba-Nya untuk meneladani sifat-Nya:
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22)
Ayat terakhir ini sangat tegas: Bagaimana mungkin kita berharap ampunan Allah jika kita sendiri enggan mengampuni kesalahan orang lain? Kebencian yang dipendam adalah beban berat bagi jiwa dan menghalangi rahmat Allah.
- Hindari Prasangka Buruk (Su'udzan) dan Berbuat Adil: Membenci seseorang bertahun-tahun seringkali berawal dari prasangka buruk yang mengkristal. Padahal Allah melarang hal itu:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..." (QS. Al-Hujurat: 12)
Nilailah bawahanmu secara objektif berdasarkan kinerja dan sikapnya sekarang. Berilah kesempatan untuk memperbaiki diri dan tunjukkan jalan keluarnya. Meminggirkannya tanpa alasan profesional yang jelas adalah kezaliman.
- Keterbukaan dan Komunikasi yang Sehat: Jika ada masalah dengan bawahan, sampaikan dengan baik-baik, jelas, dan penuh hikmah. Berikan kesempatan untuk klarifikasi dan perbaikan. Sikap diam, membeku, dan mengabaikan justru memperkeruh situasi dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Rasulullah SAW mengajarkan:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)
Diam yang destruktif bukanlah solusi. Komunikasi yang jujur dan membangun adalah kunci.
Tanggung Jawab Bersama: Membangun Lingkungan Kerja yang Rahmatan
Jaga Silaturahmi: Baik atasan maupun bawahan diperintahkan untuk menyambung tali silaturahmi, meski sulit. Memutus hubungan adalah perbuatan yang dilarang.
"Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak bertegur sapa dengan) saudaranya lebih dari tiga hari, yang keduanya saling berpaling apabila bertemu. Dan sebaik-baik di antara keduanya ialah yang memulai mengucapkan salam." (HR. Bukhari & Muslim)
Meski dalam konteks kerja, semangat hadits ini mengajarkan untuk tidak memperpanjang permusuhan.
Saling Menasihati dalam Kebenaran dan Kesabaran (Haqq wa Shabr): Bawahan boleh menyampaikan aspirasi dengan sopan dan bijak. Atasan wajib mendengar dengan adil. Nasihat-menasihati adalah bagian dari iman.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3)
Prioritaskan Kemaslahatan dan Keharmonisan: Tujuan kerja bukan hanya target duniawi, tetapi juga keberkahan. Lingkungan kerja yang penuh kebencian dan ketidakadilan akan sulit mendatangkan keberkahan. Usahakan selalu untuk berdamai dan berbuat baik. "Dan perdamaian itu lebih baik..." (QS. An-Nisa': 128)
Penutup: Membebaskan Diri dari Jerat Kebencian
Kebencian yang mengungkung, seperti yang dialami staf dalam kisah tadi, adalah penjara bagi kedua belah pihak. Sang staf terpenjara dalam rasa sakit dan pengabaian. Sang atasan terpenjara dalam kegelapan hati yang menutup pintu maaf dan rahmat. Allah SWT Yang Maha Pengampun membuka pintu maaf-Nya selebar-lebarnya bagi hamba yang bertaubat. Tidakkah kita, sebagai hamba-Nya yang penuh dosa, seharusnya meneladani sifat pengampunan-Nya?
Wahai atasan, lepaskan belenggu kebencian itu. Bukalah pintu maaf dan komunikasi. Lihatlah potensi dan upaya perbaikan bawahanmu. Kepemimpinan sejati adalah yang memanusiakan dan mengangkat, bukan merendahkan dan meminggirkan. Kewajibanmu sebagai pemimpin jauh lebih berat, termasuk mengelola hati dan hubungan dengan adil.
Wahai bawahan, tetaplah teguh dalam kebenaran, perbaiki diri tanpa henti, tunaikan amanah dengan ihsan. Jika segala ikhtiar lahir batin telah dilakukan, maka bertawakkallah. Kerjamu yang ikhlas dan profesional adalah ibadah bernilai di sisi-Nya. Kebencian orang bukanlah ukuran keberhasilanmu di hadapan Allah.
Marilah kita bersama-sama berusaha menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga penuh dengan nilai-nilai rahmat, keadilan, maaf, dan ihsan. Lingkungan di mana hati tidak terkungkung oleh kebencian bertahun-tahun, tetapi terbuka untuk saling memaafkan dan bekerja sama dalam kebaikan. Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan akan kembali kepada-Nya.
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (berdamai) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS. Ash-Shura: 40)
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim.