Oleh: Djoko Iriandono*)
Dahulu, ketika saya masih menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah negeri, saya sering mendapati kenyataan yang tidak menyenangkan. Di setiap sekolah tempat saya bertugas — walaupun saya sudah beberapa kali pindah — selalu saja ada satu atau dua orang guru yang bisa disebut pemalas. Mereka sering datang terlambat, bahkan kadang tidak masuk mengajar dengan berbagai alasan yang, terus terang saja, sulit diterima akal sehat.
Bagi seorang kepala sekolah yang berupaya menjaga disiplin dan kualitas pembelajaran, hal semacam ini tentu menjadi sumber kegelisahan. Ketika seorang guru tidak hadir, otomatis kelas menjadi kosong. Anak-anak di kelas itu ribut, gaduh, dan suasana sekolah pun menjadi tidak kondusif. Guru-guru lain yang sedang mengajar di kelas sebelah ikut terganggu karena suara berisik yang datang dari kelas tanpa pengawasan itu. Akibatnya, bukan hanya satu kelas yang terganggu, tapi seluruh proses belajar-mengajar bisa ikut terpengaruh.
Saya masih ingat, pada suatu siang, ketika sedang duduk di ruang kepala sekolah sambil memantau daftar hadir guru, hati saya tiba-tiba tergerak dengan rasa kesal bercampur kecewa. Saya bergumam dalam hati: “Andai saja ini sekolah swasta, mungkin sudah lama guru seperti ini saya pecat.”
Namun saya sadar, sekolah negeri memiliki sistem yang berbeda. Untuk memberi sanksi berat kepada seorang guru, ada prosedur yang panjang, berlapis, dan melibatkan banyak pihak. Tidak bisa serta-merta mengambil keputusan sepihak.
Maka yang bisa saya lakukan hanyalah berupaya dengan berbagai pendekatan yang lebih manusiawi — pendekatan humanis, begitu istilahnya. Saya mencoba berbicara baik-baik, mengajak berdialog, mendengarkan alasan-alasannya, bahkan mencoba memahami beban hidupnya. Namun hasilnya tetap saja tidak banyak berubah. Seolah semua upaya itu tidak menyentuh kesadarannya. Dia tetap saja menjadi guru yang paling sering terlambat dan paling banyak absen.
Akhirnya, demi menjaga ketertiban dan kenyamanan guru-guru lainnya, saya mengambil langkah tegas. Saya tidak lagi memberinya jam mengajar, melainkan menempatkannya di perpustakaan sekolah. Bukan karena ingin menghukumnya, tapi lebih karena saya ingin menjaga agar kelas-kelas lain tetap berjalan dengan baik. Saya percaya, jika ada satu titik lemah dalam sistem, maka seluruh sistem bisa terganggu.
Antara Tegas dan Manusiawi
Peristiwa itu menjadi pengalaman berharga yang tidak pernah saya lupakan. Sebagai kepala sekolah, saya belajar bahwa mengelola manusia bukanlah hal mudah. Terlebih lagi, yang kita kelola bukan hanya guru yang profesional, tapi juga pribadi dengan latar belakang, karakter, dan kondisi hidup yang berbeda-beda.
Ada guru yang rajin, berdedikasi, dan penuh semangat mengajar — tetapi ada pula guru yang mungkin kehilangan semangat karena masalah pribadi, masalah keluarga, atau bahkan kehilangan arah dalam profesinya. Di sinilah ujian sesungguhnya bagi seorang pemimpin sekolah: bagaimana bersikap tegas tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Saya menyadari satu hal penting — guru juga manusia.
Mereka bisa lelah, bisa salah, bisa jenuh, bisa kehilangan motivasi. Mereka bukan robot yang setiap hari bisa tampil sempurna di depan siswa. Namun, tentu saja, menjadi manusia bukanlah alasan untuk berbuat seenaknya. Setiap guru telah memilih profesinya sebagai pendidik — dan itu adalah panggilan mulia yang mengandung tanggung jawab moral yang besar.
Mencari Akar Permasalahan
Ketika menemukan guru dengan perilaku seperti itu, langkah pertama yang paling bijak adalah mencari akar masalahnya. Jangan langsung menilai bahwa dia malas atau tidak punya etika kerja. Bisa jadi ada hal-hal yang membuatnya tertekan:
- Mungkin dia sedang mengalami masalah keluarga yang berat.
- Mungkin dia punya konflik dengan rekan sejawat atau pimpinan sebelumnya.
- Mungkin dia tidak memiliki rasa percaya diri lagi dalam mengajar.
- Atau mungkin juga dia memang kehilangan semangat karena terlalu lama berada dalam zona nyaman.
Pendekatan dialog personal perlu dilakukan. Seorang kepala sekolah bisa memanggil yang bersangkutan untuk berbicara empat mata. Bukan untuk memarahi, tetapi untuk mendengarkan. Kadang, seseorang yang terlihat malas sebenarnya hanya sedang kehilangan arah dan butuh tempat untuk curhat.
Namun jika setelah berbagai pendekatan dilakukan tetap tidak menunjukkan perubahan, maka tindakan tegas perlu diambil. Karena seorang guru bukan hanya bertanggung jawab kepada kepala sekolah atau dinas pendidikan, tetapi kepada murid-murid yang menaruh harapan besar padanya.
Membangun Sistem yang Mendidik Guru
Salah satu kesalahan yang sering terjadi di lingkungan sekolah negeri adalah sikap terlalu permisif terhadap guru yang bermasalah. Banyak kepala sekolah yang memilih diam atau menutup mata karena tidak ingin berkonflik. Padahal, jika dibiarkan, kebiasaan buruk satu orang bisa menjadi contoh negatif bagi yang lain.
Solusi terbaik adalah membangun sistem pembinaan guru yang berkelanjutan dan berbasis motivasi. Misalnya:
- Memberlakukan sistem mentoring atau pendampingan antar guru.
Guru senior yang disiplin bisa menjadi role model bagi guru lain. - Mengadakan pertemuan reflektif rutin.
Dalam forum ini guru-guru bisa berbagi pengalaman, tantangan, dan inspirasi. Kadang dengan mendengar pengalaman sesama rekan kerja, semangat seseorang bisa bangkit kembali. - Memberikan penghargaan bagi guru yang berprestasi dan disiplin.
Apresiasi kecil dapat menumbuhkan semangat besar. - Menegakkan aturan dengan adil dan konsisten.
Jika ada pelanggaran, sanksi diberikan secara proporsional tanpa pandang bulu.
Dengan sistem seperti ini, guru yang kurang disiplin tidak akan merasa dikucilkan, melainkan terdorong untuk memperbaiki diri karena lingkungan di sekitarnya positif dan suportif.
Ketika Teguran Tidak Lagi Cukup
Tentu, ada kalanya semua upaya baik tidak membuahkan hasil. Guru yang sudah berulang kali ditegur tetapi tetap tidak berubah menunjukkan bahwa persoalannya mungkin bukan lagi pada motivasi, melainkan pada karakter dan niat dalam menjalani profesi.
Untuk kasus seperti ini, saya berpendapat bahwa langkah tegas bukanlah tindakan kejam. Justru itu adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap peserta didik. Seorang guru yang tidak disiplin berarti telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Namun langkah tegas pun harus tetap diiringi dengan kebijaksanaan. Alih-alih langsung memecat, bisa ditempuh langkah administratif yang lebih konstruktif, seperti:
- Mengurangi jam mengajar dan memindahkannya ke tugas non-pengajaran (misalnya membantu di perpustakaan atau administrasi).
- Memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan motivasi atau pembinaan kepribadian.
- Melibatkan pengawas sekolah atau dinas pendidikan untuk memberi arahan lebih lanjut.
Dengan cara ini, sekolah tetap menjaga disiplin tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan terhadap guru yang bersangkutan.
Penutup: Pemimpin yang Mendidik, Bukan Menghakimi
Menjadi kepala sekolah berarti bukan hanya menjadi pengelola administrasi, tetapi juga menjadi pemimpin pembelajaran — seorang educational leader yang mampu mendidik guru sebagaimana guru mendidik muridnya.
Guru memang manusia, tetapi seorang pemimpin juga manusia. Dua-duanya perlu saling memahami, saling menguatkan, dan saling menegur dengan penuh kasih sayang. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Saya belajar dari pengalaman itu bahwa menjadi kepala sekolah bukanlah tentang seberapa banyak kita menegur, tetapi seberapa dalam kita bisa menyentuh hati orang yang kita pimpin. Karena perubahan yang sejati bukan lahir dari rasa takut terhadap hukuman, melainkan dari kesadaran dan keinginan untuk menjadi lebih baik.
Dan di situlah letak makna sesungguhnya dari ungkapan:
“Guru juga manusia.”
Manusia yang bisa salah, bisa lalai, tapi juga manusia yang punya potensi besar untuk memperbaiki diri — jika diberi kesempatan dan bimbingan yang tulus.
*) Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur.